Suara knalpot yang memekakkan telinga, aksi salip-menyalip pada kecepatan tinggi, serta drama menegangkan di tikungan terakhir selalu menjadi daya tarik utama. Siapa sebenarnya yang tidak mengenal MotoGP? Ajang ini merupakan puncak tertinggi dari segala kompetisi balap motor di planet ini, Bro! Namun, apakah kalian mengetahui bagaimana cerita balapan ini bisa berkembang menjadi sebesar sekarang? Perjalanannya ternyata sangat panjang, penuh dengan inovasi gila, dan melahirkan banyak pahlawan sirkuit yang namanya abadi hingga detik ini.
Kali ini, Tim Exmotoride mengajak kalian untuk menengok kembali perjalanan panjang tersebut dan menelusuri sejarah motogp secara mendalam. Kita akan mulai dari awal mula yang sederhana, masa-masa di mana nyali lebih berharga daripada teknologi, hingga transformasi menjadi ajang balap paling bergengsi di dunia. Selain itu, kita juga akan membedah tuntas evolusi mesinnya yang seringkali membuat geleng-geleng kepala, sampai ke deretan sirkuit keramat yang menjadi saksi bisu pertarungan para legenda.
Era Awal: Lahirnya Balap Grand Prix dan Dominasi Eropa

Kisah epik ini bermula hanya beberapa saat setelah Perang Dunia II berakhir. Kala itu, dunia sangat membutuhkan hiburan, dan balap motor muncul sebagai salah satu pelarian yang paling seru dan menantang. Melihat antusiasme yang begitu besar ini, Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM) akhirnya mengambil langkah tegas. Mereka meresmikan Kejuaraan Dunia Balap Motor Grand Prix pada tahun 1949. Inilah momen bersejarah yang menjadi fondasi kokoh bagi apa yang kita kenal sebagai MotoGP sekarang.
Pada masa-masa awal tersebut, kalian jangan membayangkan motor-motor canggih penuh sensor elektronik seperti sekarang. Semuanya serba mekanis, murni mengandalkan adu nyali dan kemampuan balap (skill) tingkat tinggi. Kelas utamanya adalah 500cc, yang hadir berdampingan dengan kelas-kelas pendukung seperti 350cc, 250cc, dan 125cc. Pabrikan asal Eropa benar-benar merajai sirkuit saat itu. Nama-nama besar seperti Norton dari Inggris, serta Gilera dan MV Agusta dari Italia, secara bergantian menjadi langganan podium juara.
Pembalap legendaris seperti Geoff Duke dan John Surtees (satu-satunya orang yang juara dunia MotoGP dan F1) menjadi idola besar di masa itu. Menariknya, mereka seringkali balapan di sirkuit jalan raya yang sangat berbahaya, seperti Isle of Man TT yang ikonik. Risiko kematian sangatlah nyata di setiap tikungan, namun justru itulah yang membuat era ini begitu heroik di mata para penggemar sejarah.
Revolusi Mesin 2-Tak: Ganas, Berisik, dan Penuh Legenda

Meskipun demikian, dominasi Eropa tidak bertahan selamanya. Perlahan namun pasti, pabrikan Jepang mulai merangsek masuk ke arena persaingan. Honda, Yamaha, dan Suzuki datang dengan membawa teknologi dan filosofi yang benar-benar berbeda. Mereka memperkenalkan inovasi gila yang nantinya akan mengubah segalanya: mesin 2-tak. Walaupun awalnya banyak pihak meragukannya, teknologi ini pelan-pelan berhasil mengubah peta kompetisi secara drastis.
Mesin 2-tak, khususnya yang bermain di kelas utama 500cc, segera menjadi simbol dari era 2 tak yang liar dan tak kenal ampun. Mengapa orang menyebutnya liar? Alasannya sederhana, mesin ini sangat ringan tetapi memiliki ledakan tenaga (power delivery) yang super brutal. Pada masa itu, belum ada teknologi kontrol traksi canggih untuk menjinakkan tenaga tersebut. Semua kendali murni berada di pergelangan tangan kanan pembalap. Jika pembalap melakukan kesalahan sedikit saja saat membuka gas di tikungan, motor bisa langsung melempar tubuh mereka ke udara, atau orang sering menyebutnya dengan istilah high-side crash yang sangat mengerikan.
Karakteristik Era 2 Tak (500cc)
Era ini memiliki ciri khas unik yang selalu bikin kangen para penggemar lama. Kalau kalian belum pernah merasakannya secara langsung, coba bayangkan situasi berikut ini:
- Powerband Sempit dan Liar: Tenaga mesin baru akan “nendang” secara tiba-tiba di putaran (RPM) yang sangat tinggi. Di bawah itu, motor cenderung terasa loyo. Oleh karena itu, pembalap harus sangat jago dalam menjaga momentum putaran mesin agar tidak kehilangan tenaga.
- Asap Knalpot Khas: Mesin 2-tak membutuhkan oli samping yang ikut terbakar di ruang mesin. Proses ini menghasilkan asap putih kebiruan yang memiliki aroma wangi khas (atau justru bikin sesak napas bagi sebagian orang). Kalian bisa melihat contoh motor ikonik dari masa ini di artikel motor 2 tak legendaris kita.
- Suara Melengking: Lupakan suara V4 yang ngebass dan berat. Suara 2-tak itu melengking tinggi, terdengar seperti jutaan nyamuk raksasa yang sedang balapan. Sangat berisik, tetapi justru itulah yang membuatnya ikonik!
- Teknik Balap Sliding: Karena tenaganya sangat liar dan teknologi ban belum secanggih sekarang, pembalap 2-tak seringkali melakukan powerslide (ngepot) untuk mengarahkan motor keluar tikungan. Aksi ini benar-benar memanjakan mata penonton.
Para Dewa Sirkuit Era 500cc
Menaklukkan motor 500cc 2-tak jelas membutuhkan nyali setingkat dewa. Tidak heran jika era ini melahirkan banyak sekali legenda balap. Kita mulai dari Giacomo Agostini. Meskipun dia meraih sebagian besar kemenangannya bersama MV Agusta 4-tak, dia tetap menjadi jembatan penting antar generasi. Selanjutnya, datanglah “King” Kenny Roberts dari Amerika Serikat. Dia membawa gaya balap dirt track yang revolusioner, yaitu nikung dengan lutut menempel aspal (knee down), yang kemudian mengubah cara orang balapan selamanya.
Puncak ketegangan terjadi di era emas pembalap Amerika dan Australia. Nama-nama besar seperti Freddie Spencer, Eddie Lawson, Wayne Rainey, dan Kevin Schwantz saling sikut di lintasan demi memperebutkan gelar juara. Rivalitas mereka yang panas menjadi bumbu utama balapan setiap minggunya. Setelah masa mereka berlalu, Mick Doohan muncul dan menguasai panggung. Pembalap Australia ini tampil sangat dominan bersama Honda NSR500 miliknya, bahkan setelah dia mengalami cedera kaki yang sangat parah. Dia layak menyandang gelar sebagai raja terakhir di era 500cc 2-tak sebelum regulasi berubah.
Lahirnya Era MotoGP 4-Tak: Teknologi dan Taktik Baru

Memasuki awal milenium baru, dunia balap motor kembali bergetar hebat. FIM memutuskan untuk mengubah aturan main secara drastis pada tahun 2002. Kelas 500cc 2-tak yang legendaris akhirnya harus pensiun. Sebagai gantinya, lahirlah kelas baru yang kita kenal sampai sekarang dengan nama MotoGP. Perubahan besar ini tentu saja mengundang banyak perdebatan di kalangan penggemar.
Sebenarnya, banyak hal yang mendasari perubahan radikal ini. Alasan utamanya adalah isu lingkungan, di mana orang menganggap emisi gas buang mesin 2-tak sudah tidak ramah lingkungan lagi. Selain itu, pabrikan motor ingin agar motor balap prototipe mereka lebih relevan dengan motor produksi massal yang mereka jual di jalanan, yang mayoritas sudah menggunakan mesin 4-tak. Maka, dimulailah era 4 tak. Pada awalnya, motor-motor ini memiliki kapasitas mesin 990cc 4-tak, jauh lebih besar daripada 500cc 2-tak, untuk mengimbangi output tenaganya.
Dampak Transisi ke Mesin 4 Tak
Motor 4-tak 990cc generasi awal benar-benar buas. Tenaganya jauh lebih besar daripada pendahulunya, membuat kecepatan puncak (top speed) di trek lurus menjadi gila-gilaan. Namun, mesin ini juga menghasilkan engine brake yang sangat kuat, sesuatu yang tidak ada di motor 2-tak. Inilah awal mula teknologi elektronik meraja lela. Tim balap mulai menggunakan sistem canggih seperti Traction Control (TC) dan manajemen Engine Brake (EB) sebagai senjata utama.
Akibatnya, gaya balap pun ikut berubah total. Pembalap tidak bisa lagi tampil ‘liar’ dan agresif seperti di era 2-tak. Mereka harus berkendara dengan lebih halus (smooth), presisi, dan pintar-pintar memanfaatkan bantuan elektronik tersebut. Kalian bisa membaca lebih detail mengenai teknis balapan modern ini di artikel analisis balap motogp yang pernah kita bahas sebelumnya.
Dari Rossi hingga Marquez: Era Para Ikon Modern

Setiap era dalam sejarah MotoGP selalu melahirkan ikonnya sendiri. Jika era 500cc memiliki Doohan dan Schwantz, maka era MotoGP modern punya dewa-dewanya sendiri. Era ini menjadi panggung utama bagi para pembalap yang tidak hanya cepat, tetapi juga memiliki karisma bintang yang luar biasa. Inilah momen-momen yang paling melekat di ingatan para penggemar balap milenial.
Valentino Rossi: Sang Doktor yang Mendefinisikan MotoGP
Rasanya tidak mungkin membahas MotoGP modern tanpa menyebut nama besar Valentino Rossi. Dia adalah pembalap jembatan antar generasi. “The Doctor” tercatat sebagai juara dunia terakhir di kelas 500cc 2-tak, dan dia jugalah yang langsung mendominasi awal era 990cc 4-tak bersama tim Honda. Dominasinya tidak terbantahkan lagi. Kalian bisa melihat perjalanan karirnya yang luar biasa di profil pembalap motogp legendaris ini.
Puncak pembuktiannya terjadi saat dia mengambil sebuah keputusan gila: pindah dari Honda (motor terkuat saat itu) ke Yamaha yang sedang terseok-seok. Hampir semua orang bilang dia sudah gila. Tetapi, Rossi membungkam kritik tersebut dengan langsung memenangkan balapan pertamanya bersama Yamaha di sirkuit Welkom! Valentino Rossi tidak hanya mengubah jalannya balapan, tetapi dia juga berhasil mengubah MotoGP menjadi tontonan global yang menghibur. Selebrasi uniknya, desain helm yang nyentrik, serta rivalitas panasnya melawan Max Biaggi, Sete Gibernau, dan Casey Stoner sukses membuat jutaan orang jatuh cinta pada olahraga ini.
Generasi Alien: Stoner, Lorenzo, dan Pedrosa
Selanjutnya, dominasi Rossi akhirnya mendapatkan tantangan berat dari generasi baru yang orang juluki “The Aliens” atau “Fantastic Four”. Pertama, muncul Casey Stoner. Pembalap asal Australia ini datang dan menggebrak dunia saat berhasil menjadi juara dunia bersama Ducati, motor yang terkenal sangat liar dan sulit takluk. Kemampuan Stoner dalam menjinakkan Ducati benar-benar di luar nalar manusia biasa.
Kemudian, hadir pula duo Spanyol yang sangat kencang: Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa. Lorenzo, dengan gaya balap super halus layaknya mentega (julukannya ‘Mantequilla’), menjadi rival utama Rossi di tim Yamaha. Sementara itu, Dani Pedrosa, si ‘Little Samurai’, meskipun tidak pernah meraih gelar juara dunia MotoGP, dia selalu menjadi ancaman serius di barisan depan. Rivalitas ketat di antara mereka menjadi salah satu tontonan paling seru dalam sejarah modern.
Era Kontemporer dan Teknologi Aerodinamika
Sejarah MotoGP tentu tidak berhenti di situ. Setelah periode dominasi Marc Marquez yang fenomenal, FIM kembali mengubah regulasi (kapasitas mesin sempat turun ke 800cc yang kurang sukses, lalu stabil kembali di 1000cc). Teknologi pun makin menggila, terutama di sektor aerodinamika. Kalian pasti sering melihat motor-motor sekarang penuh dengan ‘sayap’ atau winglet, bukan? Inovasi ini, yang bermula dari Ducati, bertujuan untuk menjaga roda depan tetap menempel di aspal saat akselerasi penuh.
Lantas, apa hasilnya? Kompetisi menjadi super ketat! Tidak ada lagi satu pabrikan atau satu pembalap yang bisa mendominasi secara mutlak. Suzuki (sebelum cabut), Ducati, Yamaha, Aprilia, dan KTM, semuanya memiliki peluang untuk menang. Juara dunia baru bermunculan silih berganti, mulai dari Joan Mir, Fabio Quartararo, hingga Pecco Bagnaia. Fenomena ini membuktikan bahwa evolusi di MotoGP tidak pernah berhenti.
Syarat Menjadi Pembalap MotoGP

Banyak anak muda yang bermimpi ingin balapan di kelas utama ini, tapi jalannya jelas tidak mudah, Bro. Ini bukan sekadar punya uang banyak atau motor kencang. FIM menerapkan aturan super ketat demi keselamatan, mengingat motor ini adalah monster bertenaga 300 HP lebih.
Syarat utamanya adalah memiliki lisensi khusus yang disebut “FIM Grand Prix World Championship Licence”. Untuk mendapatkan ini, seorang pembalap minimal harus berusia 18 tahun (aturan terbaru untuk membatasi pembalap di bawah umur). Selain itu, mereka wajib memiliki pengalaman kompetitif di kelas Moto3 atau Moto2 dengan hasil yang memenuhi standar kualifikasi. Jadi, tidak bisa sembarang orang yang cuma jago ngebut di jalan raya langsung daftar ke Dorna.
Aturan Main, Poin, dan Kualifikasi DI MotoGP

Bro, satu musim MotoGP biasanya memiliki 22 seri balapan (Grand Prix), menjadikannya musim terpanjang dan paling padat dalam sejarah balap motor dunia, Balapn ini mencakup berbagai sirkuit dan negara di lima benua. Jumlah ini mencerminkan rekor balapan baru, meskipun kadang ada pembatalan, tetapi standar targetnya adalah 22 seri.
Bagi Sobat yang baru mengikuti MotoGP, format balapannya sekarang sudah berevolusi agar lebih seru bagi penonton. Dulu hanya ada satu balapan di hari Minggu, tapi sekarang fisik pembalap benar-benar diuji dengan adanya Sprint Race.
Sistem Kualifikasi (Q1 & Q2)
Penentuan posisi start (Pole Position) tidak lagi ditentukan dari akumulasi waktu latihan bebas semata. Sekarang menggunakan sistem Q1 dan Q2. 10 pembalap tercepat dari sesi latihan (Practice) langsung lolos ke Q2 untuk memperebutkan 12 posisi terdepan. Sisanya harus bertarung dulu di Q1, di mana hanya 2 pembalap tercepat yang boleh lanjut ke Q2.
Format Balapan: Sprint vs Feature Race
- Sprint Race (Sabtu): Balapan jarak pendek, hanya 50% dari total lap balapan utama. Poinnya pun setengah, yaitu 12 poin untuk pemenang. Ini dibuat agar Sabtu lebih menghibur.
- Grand Prix Race (Minggu): Ini adalah menu utamanya. Jarak tempuh penuh dengan poin maksimal 25 untuk juara 1.
Sistem Poin Terbaru
| Posisi Finish | Poin (Minggu) | Poin (Sprint Sabtu) |
|---|---|---|
| 1 | 25 | 12 |
| 2 | 20 | 9 |
| 3 | 16 | 7 |
| 4 | 13 | 6 |
| 5 | 11 | 5 |
*Catatan: Poin terus menurun hingga posisi ke-15 (1 poin) untuk balapan Minggu, dan hingga posisi ke-9 (1 poin) untuk Sprint Race.
Daftar Juara Dunia Pembalap: Hall of Fame

Ini adalah daftar sakral para “Raja Jalanan” yang berhasil menaklukkan ganasnya mesin balap kelas utama (500cc & MotoGP). Karena sejarahnya sangat panjang, Tim Exmotoride bagi menjadi tiga era berbeda agar kalian lebih mudah melihat evolusi penguasa lintasan dari masa ke masa.
1. Era MotoGP Modern (4-Tak: 2002 – 2025)
Era ini dimulai sejak regulasi berubah drastis dari 500cc 2-tak menjadi 990cc 4-tak (kemudian 800cc, dan kini 1000cc). Di sini, teknologi elektronik mulai memegang peranan vital. Valentino Rossi membuka era ini dengan dominasi, disusul oleh generasi “Alien” Spanyol, hingga kini beralih ke era aerodinamika Ducati.
| Tahun | Juara Dunia | Negara | Motor |
|---|---|---|---|
| 2025 | Marc Marquez | Spanyol | Ducati |
| 2024 | Jorge Martin | Spanyol | Ducati |
| 2023 | Francesco Bagnaia | Italia | Ducati |
| 2022 | Francesco Bagnaia | Italia | Ducati |
| 2021 | Fabio Quartararo | Prancis | Yamaha |
| 2020 | Joan Mir | Spanyol | Suzuki |
| 2019 | Marc Marquez | Spanyol | Honda |
| 2018 | Marc Marquez | Spanyol | Honda |
| 2017 | Marc Marquez | Spanyol | Honda |
| 2016 | Marc Marquez | Spanyol | Honda |
| 2015 | Jorge Lorenzo | Spanyol | Yamaha |
| 2014 | Marc Marquez | Spanyol | Honda |
| 2013 | Marc Marquez | Spanyol | Honda |
| 2012 | Jorge Lorenzo | Spanyol | Yamaha |
| 2011 | Casey Stoner | Australia | Honda |
| 2010 | Jorge Lorenzo | Spanyol | Yamaha |
| 2009 | Valentino Rossi | Italia | Yamaha |
| 2008 | Valentino Rossi | Italia | Yamaha |
| 2007 | Casey Stoner | Australia | Ducati |
| 2006 | Nicky Hayden | USA | Honda |
| 2005 | Valentino Rossi | Italia | Yamaha |
| 2004 | Valentino Rossi | Italia | Yamaha |
| 2003 | Valentino Rossi | Italia | Honda |
| 2002 | Valentino Rossi | Italia | Honda |
Dominasi Spanyol sangat kental di era ini. Marc Marquez mencetak sejarah gila dengan kembali menjadi juara dunia di tahun 2025 bersama Ducati, membuktikan bahwa “The Baby Alien” belum habis meskipun sempat diterpa cedera panjang. Ia sukses mematahkan dominasi murid-murid Rossi (Bagnaia & Martin) menggunakan senjata yang sama.
2. Era Emas 2-Tak (1976 – 2001)
Inilah masa di mana pembalap Amerika dan Australia menjadi raja. Motor 500cc 2-tak dikenal sangat liar, tanpa traksi kontrol, dan membutuhkan fisik serta nyali luar biasa. Siapa pun yang juara di era ini dianggap memiliki skill “dewa”.
| Tahun | Juara Dunia | Negara | Motor |
|---|---|---|---|
| 2001 | Valentino Rossi | Italia | Honda |
| 2000 | Kenny Roberts Jr. | USA | Suzuki |
| 1999 | Alex Criville | Spanyol | Honda |
| 1998 | Mick Doohan | Australia | Honda |
| 1997 | Mick Doohan | Australia | Honda |
| 1996 | Mick Doohan | Australia | Honda |
| 1995 | Mick Doohan | Australia | Honda |
| 1994 | Mick Doohan | Australia | Honda |
| 1993 | Kevin Schwantz | USA | Suzuki |
| 1992 | Wayne Rainey | USA | Yamaha |
| 1991 | Wayne Rainey | USA | Yamaha |
| 1990 | Wayne Rainey | USA | Yamaha |
| 1989 | Eddie Lawson | USA | Honda |
| 1988 | Eddie Lawson | USA | Yamaha |
| 1987 | Wayne Gardner | Australia | Honda |
| 1986 | Eddie Lawson | USA | Yamaha |
| 1985 | Freddie Spencer | USA | Honda |
| 1984 | Eddie Lawson | USA | Yamaha |
| 1983 | Freddie Spencer | USA | Honda |
| 1982 | Franco Uncini | Italia | Suzuki |
| 1981 | Marco Lucchinelli | Italia | Suzuki |
| 1980 | Kenny Roberts | USA | Yamaha |
| 1979 | Kenny Roberts | USA | Yamaha |
| 1978 | Kenny Roberts | USA | Yamaha |
| 1977 | Barry Sheene | Inggris | Suzuki |
| 1976 | Barry Sheene | Inggris | Suzuki |
Era ini sering disebut “The Golden Age” karena persaingan brutal antara Yamaha dan Honda. Mick Doohan menjadi ikon dominasi di akhir 90-an dengan 5 gelar berturut-turut, sementara Kenny Roberts dan Eddie Lawson adalah legenda Amerika yang mengubah gaya balap dunia (knee down).
3. Era Klasik (1949 – 1975)
Masa awal Grand Prix di mana pembalap Eropa dan motor pabrikan Italia/Inggris tidak tersentuh. Jumlah balapan lebih sedikit, sirkuit masih jalan raya berbahaya, dan satu pembalap (Giacomo Agostini) mencetak rekor yang belum terpecahkan hingga kini.
| Tahun | Juara Dunia | Negara | Motor |
|---|---|---|---|
| 1975 | Giacomo Agostini | Italia | Yamaha |
| 1974 | Phil Read | Inggris | MV Agusta |
| 1973 | Phil Read | Inggris | MV Agusta |
| 1972 | Giacomo Agostini | Italia | MV Agusta |
| 1971 | Giacomo Agostini | Italia | MV Agusta |
| 1970 | Giacomo Agostini | Italia | MV Agusta |
| 1969 | Giacomo Agostini | Italia | MV Agusta |
| 1968 | Giacomo Agostini | Italia | MV Agusta |
| 1967 | Giacomo Agostini | Italia | MV Agusta |
| 1966 | Giacomo Agostini | Italia | MV Agusta |
| 1965 | Mike Hailwood | Inggris | MV Agusta |
| 1964 | Mike Hailwood | Inggris | MV Agusta |
| 1963 | Mike Hailwood | Inggris | MV Agusta |
| 1962 | Mike Hailwood | Inggris | MV Agusta |
| 1961 | Gary Hocking | Rhodesia | MV Agusta |
| 1960 | John Surtees | Inggris | MV Agusta |
| 1959 | John Surtees | Inggris | MV Agusta |
| 1958 | John Surtees | Inggris | MV Agusta |
| 1957 | Libero Liberati | Italia | Gilera |
| 1956 | John Surtees | Inggris | MV Agusta |
| 1955 | Geoff Duke | Inggris | Gilera |
| 1954 | Geoff Duke | Inggris | Gilera |
| 1953 | Geoff Duke | Inggris | Gilera |
| 1952 | Umberto Masetti | Italia | Gilera |
| 1951 | Geoff Duke | Inggris | Norton |
| 1950 | Umberto Masetti | Italia | Gilera |
| 1949 | Leslie Graham | Inggris | AJS |
MV Agusta menang 16 kali dalam kurun waktu 18 tahun! Ini adalah rekor dominasi pabrikan terpanjang dalam sejarah. Yamaha mulai mematahkan dominasi ini pada tahun 1974, yang sekaligus menjadi tanda dimulainya era kejayaan pabrikan Jepang di kancah balap dunia.
Daftar Juara Dunia Konstruktor (Pabrikan)

Persaingan antar insinyur juga tidak kalah panas. Gelar Konstruktor membuktikan motor mana yang paling superior di lintasan, terlepas dari siapa pembalapnya. Berikut rincian lengkap dominasi pabrikan yang kita bagi menjadi 3 era besar, lengkap dari tahun ke tahun.
1. Konstruktor Era Modern (2002 – 2025)
Awal era 4-tak modern masih dikuasai Honda dan Yamaha. Namun, dekade 2020-an menjadi titik balik di mana pabrikan Eropa (Ducati) bangkit dan meluluhlantakkan dominasi Jepang lewat inovasi aerodinamika.
| Tahun | Pabrikan Juara |
|---|---|
| 2025 | Ducati |
| 2024 | Ducati |
| 2023 | Ducati |
| 2022 | Ducati |
| 2021 | Ducati |
| 2020 | Ducati |
| 2019 | Honda |
| 2018 | Honda |
| 2017 | Honda |
| 2016 | Honda |
| 2015 | Yamaha |
| 2014 | Honda |
| 2013 | Honda |
| 2012 | Honda |
| 2011 | Honda |
| 2010 | Yamaha |
| 2009 | Yamaha |
| 2008 | Yamaha |
| 2007 | Ducati |
| 2006 | Honda |
| 2005 | Yamaha |
| 2004 | Honda |
| 2003 | Honda |
| 2002 | Honda |
Honda RC211V dan RC213V adalah motor paling sukses di paruh pertama era ini. Namun, “Desmosedici” buatan Ducati kini menjadi standar baru motor balap prototipe yang sulit dikejar, menyapu bersih gelar konstruktor dari tahun 2020 hingga 2025 tanpa ampun. Bahkan Marc Marquez pun harus pindah ke motor ini untuk bisa juara dunia lagi.
2. Konstruktor Era 2-Tak (1976 – 2001)
Masa di mana motor Jepang (The Big Four) mulai menginvasi dunia. Honda dan Yamaha silih berganti juara, sesekali diganggu oleh Suzuki yang efisien.
| Tahun | Pabrikan Juara |
|---|---|
| 2001 | Honda |
| 2000 | Yamaha |
| 1999 | Honda |
| 1998 | Honda |
| 1997 | Honda |
| 1996 | Honda |
| 1995 | Honda |
| 1994 | Honda |
| 1993 | Yamaha |
| 1992 | Honda |
| 1991 | Yamaha |
| 1990 | Yamaha |
| 1989 | Honda |
| 1988 | Yamaha |
| 1987 | Yamaha |
| 1986 | Yamaha |
| 1985 | Honda |
| 1984 | Honda |
| 1983 | Honda |
| 1982 | Suzuki |
| 1981 | Suzuki |
| 1980 | Suzuki |
| 1979 | Suzuki |
| 1978 | Suzuki |
| 1977 | Suzuki |
| 1976 | Suzuki |
Lihat betapa kuatnya Suzuki di akhir 70-an dengan motor RG500-nya! Namun setelah itu, Honda NSR500 dan Yamaha YZR500 menjadi dua kuda besi yang paling ikonik dan mendominasi hingga regulasi 2-tak dihapus.
3. Konstruktor Era Klasik (1949 – 1975)
Jangan kaget melihat tabel ini, Bro. Ini adalah bukti hegemoni absolut dari satu pabrikan Italia yang namanya melegenda, MV Agusta, yang nyaris tak tersentuh selama dua dekade.
| Tahun | Pabrikan Juara |
|---|---|
| 1975 | Yamaha |
| 1974 | Yamaha |
| 1973 | MV Agusta |
| 1972 | MV Agusta |
| 1971 | MV Agusta |
| 1970 | MV Agusta |
| 1969 | MV Agusta |
| 1968 | MV Agusta |
| 1967 | MV Agusta |
| 1966 | Honda |
| 1965 | MV Agusta |
| 1964 | MV Agusta |
| 1963 | MV Agusta |
| 1962 | MV Agusta |
| 1961 | MV Agusta |
| 1960 | MV Agusta |
| 1959 | MV Agusta |
| 1958 | MV Agusta |
| 1957 | Gilera |
| 1956 | MV Agusta |
| 1955 | Gilera |
| 1954 | Gilera |
| 1953 | Gilera |
| 1952 | Gilera |
| 1951 | Norton |
| 1950 | Gilera |
| 1949 | AJS |
MV Agusta menang 16 kali dalam kurun waktu 18 tahun! Ini adalah rekor dominasi pabrikan terpanjang dalam sejarah. Yamaha mulai mematahkan dominasi ini pada tahun 1974, yang sekaligus menjadi tanda dimulainya era kejayaan pabrikan Jepang di kancah balap dunia.
Peranan Indonesia: Legenda & Jejak Sejarah

Jangan salah, Bro! Indonesia punya tempat spesial di hati para pelaku MotoGP. Basis fans di sini adalah salah satu yang terbesar di dunia. Jejak sejarah balap kelas dunia di tanah air pun sudah ada sejak lama.
- Era Sentul (1996-1997): Generasi 90-an pasti ingat momen ini. Sirkuit Sentul pernah menjadi tuan rumah GP 500cc. Di sanalah legenda Mick Doohan dan Valentino Rossi (saat itu masih kelas 125cc) pernah mengaspal di depan publik Indonesia.
- Era Mandalika (2022-Sekarang): Setelah penantian panjang, MotoGP kembali ke Indonesia dengan sirkuit jalan raya modern di Lombok. Pertamina Mandalika International Street Circuit langsung jadi sorotan dunia karena keindahan dan antusiasme penontonnya. Kita juga punya wakil seperti Mario Aji yang berjuang di kelas Moto2/Moto3. Kalian bisa cek profil lengkapnya di profil Mario Suryo Aji.
Fakta Ekstrim MotoGP (Trivia)

Di balik layar kaca, ada fakta-fakta gila yang mungkin belum kalian tahu. Balapan ini benar-benar menyiksa fisik dan mesin sampai batas maksimalnya:
- G-Force Mengerikan: Saat pengereman keras (hard braking) dari 350 km/jam ke 90 km/jam, pembalap menahan beban gaya gravitasi hingga 1.5G sampai 1.8G. Itu rasanya seperti ada beban ratusan kilo menekan lengan mereka!
- Dehidrasi Parah: Di balapan iklim tropis seperti Malaysia atau Indonesia, seorang pembalap bisa kehilangan cairan tubuh (keringat) sebanyak 2 hingga 3 liter hanya dalam durasi 45 menit balapan.
- Sudut Kemiringan: Ban modern Michelin memungkinkan pembalap miring (lean angle) hingga lebih dari 64 derajat. Siku dan bahu mereka benar-benar menggerus aspal.
- Top Speed: Rekor kecepatan motor MotoGP saat ini sudah menembus angka 366,1 km/jam (Brad Binder/Pol Espargaro). Itu lebih cepat dari kereta peluru Shinkansen! Cek ulasan mesin buas lainnya di artikel motor terkencang di dunia.
Jejak Abadi: Sirkuit Legendaris MotoGP

Bicara soal sejarah, rasanya kurang lengkap kalau kita tidak membahas arenanya. MotoGP bukan hanya soal motor dan pembalap, tetapi juga tentang sirkuit legendaris yang menjadi saksi bisu pertarungan epik mereka. Sirkuit-sirkuit ini memiliki karakter kuat yang pembalap takuti sekaligus cintai. Jika kalian penasaran dengan detail teknis treknya, coba cek ulasan kita tentang sirkuit ikonik motogp ini.
- Assen, Belanda: Para penggemar menjulukinya “The Cathedral of Speed”. Ini adalah satu-satunya sirkuit yang (dalam berbagai bentuk layout) selalu ada di kalender Grand Prix sejak awal mula kejuaraan. Karakter treknya sangat cepat dan mengalir (flowing). Kalian bisa membaca sejarah panjangnya di laman TT Circuit Assen via Wikipedia.
- Mugello, Italia: Ini adalah rumah suci bagi fans Ducati dan Valentino Rossi (Tifosi). Trek ini terkenal dengan lintasan lurusnya yang super panjang dan kombinasi tikungan cepat yang sangat menantang fisik, seperti Casanova-Savelli. Atmosfer penonton di sini sungguh gila!
- Phillip Island, Australia: Mungkin ini adalah sirkuit paling indah di kalender balap, karena letaknya persis di tepi tebing samudra. Trek ini sangat cepat, mengalir, dan menuntut nyali besar, terutama saat pembalap melibas tikungan Stoner Corner dan Lukey Heights.
Bagaimana Bro, Apakah Sekarang Sudah Paham Balapan Ini?

Bagaimana menurut kalian, Bro? Panjang banget kan perjalanannya? Mulai dari mesin 500cc 2-tak yang buas dan murni mekanis, kita sudah sampai di era 1000cc 4-tak yang super cerdas, penuh elektronik canggih, dan aerodinamika rumit. MotoGP selalu konsisten menjadi panggung inovasi teknologi roda dua. Apa yang pabrikan tes di sirkuit hari ini, beberapa waktu kemudian pasti akan turun ke motor harian yang kita pakai di jalanan.
Balapan ini merupakan perpaduan sempurna antara teknologi canggih, nyali pembalap yang gila, drama rivalitas panas, serta strategi tim yang jenius. Dan yang paling seru, sejarah ini masih akan terus berlanjut. Siapa kira-kira ikon berikutnya yang akan muncul? Teknologi gila apa lagi yang bakal insinyur ciptakan? Kita tunggu saja bareng-bareng! Menurut kalian, era mana yang paling seru untuk ditonton? Jangan ragu untuk share pendapat kalian di kolom komentar ya! Dan jangan lupa, baca lebih banyak kisah menarik dari dunia balap di artikel analisis balap MotoGP.







