Sampurasun, Braderr! Pernah gak sih kalian nonton balapan MotoGP, kemudian tiba-tiba liat bocah ajaib kayak Pedro Acosta atau Fabio Quartararo yang baru naik kelas tapi langsung ngacak-ngacak barisan depan? Selain itu, kalian juga pasti penasaran, di mana sebenernya “pabrik” yang nyetak alien-alien balap kayak gitu?
Sebenarnya, jawabannya bukan di pasar malem, melainkan di sebuah kompetisi sadis bernama FIM JuniorGP. Buat Sobat Exmotoride yang ngakunya GP Mania, tentu saja wajib banget paham soal ajang ini di awal tahun 2026 ini. Mengapa demikian? Pasalnya, 90% pembalap yang ada di grid MotoGP hari ini, faktanya adalah lulusan dari akademi balap paling bergengsi ini. Sejarah panjangnya bahkan bisa dibilang sama pentingnya dengan kupas tuntas sejarah MotoGP itu sendiri.
Oleh karena itu, kali ini Tim Exmotoride bakal ajak kalian deep dive. Kita bakal bahas tuntas mulai dari sejarah, aturan main, alasan kenapa motornya kenceng banget padahal cuma 250cc, bagaimana itungan PWR-nya yang gila, hingga rekap lengkap perjuangan pembalap Indonesia di musim 2025 kemarin. Jadi, siapin kopi, kencengin sabuk pengaman, gaskeun!
Informasi Lengkap FIM JuniorGP: Sejarah dan Evolusi

Banyak yang sering bertanya, “Sebenernya FIM JuniorGP adalah kejuaraan apa sih? Kok gengsinya gede banget?” Nah, biar gak kudet, mari kita bedah dulu sejarahnya secara runtut.
Dari Lokal Spanyol Menuju Kejuaraan Dunia
Awalnya, fans balap lebih mengenal ajang ini dengan nama FIM CEV Repsol. Dulunya, ini hanyalah kejuaraan nasional Spanyol (Campeonato de España de Velocidad). Akan tetapi, karena level kompetisinya edan eling dan sirkuit yang mereka pakai adalah sirkuit standar Grand Prix (macam Valencia, Jerez, Barcelona), akibatnya banyak pembalap dari seluruh dunia—termasuk Indonesia—yang nekat “sekolah” di sini.
Selanjutnya, melihat potensi besar ini, Dorna Sports dan FIM akhirnya resmi menaikkan statusnya menjadi FIM JuniorGP World Championship. Dengan demikian, ini bukan lagi kejurnas Spanyol ya Gan, tapi udah sah jadi Kejuaraan Dunia Junior. Singkatnya, ini adalah kasta tertinggi balap pembibitan di muka bumi sebelum masuk ke analisis balap MotoGP yang sebenernya.
Kategori Kelas yang Dilombakan
Selain itu, mengutip situs resmi FIM JuniorGP, ternyata ada beberapa kelas yang jadi penjenjangan. Ini mirip seperti struktur balapan Moto3 di level dunia, tapi versi juniornya:
- JuniorGP (Moto3): Kelas utama, pake motor prototype 250cc. Jelas ini yang paling bergengsi.
- Moto2 European Championship: Pake mesin Triumph 765cc. Aturannya sangat mirip dengan balapan moto2 di level Grand Prix, sering jadi loncatan langsung ke Moto2 Dunia.
- European Talent Cup (ETC): Kelas pemula (kadet) pake motor Honda NSF250R standar (Stock).
- Stock European Championship: Kelas motor produksi massal 600cc, beda jalur dengan prototype atau MotoE World Championship yang berbasis listrik.
Aturan Balapan dan Sistem Poin: Mirip MotoGP?

Nah, ini bagian yang sering kelewat tapi penting banget, Brads. Biar gak bingung pas nonton, Tim Exmotoride jelaskan aturan mainnya secara singkat. Sistem balap di FIM JuniorGP itu mengadopsi standar FIM Grand Prix, jadi gak beda jauh sama tontonan Minggu sore kalian.
Format Kualifikasi (QP)
Sama seperti kakaknya, sesi kualifikasi bakal menentukan posisi start (Grid). Di kelas JuniorGP, penyelenggara biasanya membagi sesi menjadi latihan bebas (FP) dan dua sesi kualifikasi (QP1 & QP2) jika jumlah pembalap membludak. Catatan waktu gabungan atau sesi terakhir yang bakal nentuin siapa yang berhak dapet Pole Position.
Sistem Perolehan Poin
Gimana cara nentuin Juara Dunia? Juri balap memberikan poin kepada 15 pembalap terdepan yang menyentuh garis finis. Sistemnya persis sama dengan MotoGP:
| Posisi Finis | Poin Didapat |
|---|---|
| Posisi 1 (Winner) | 25 Poin |
| Posisi 2 | 20 Poin |
| Posisi 3 | 16 Poin |
| Posisi 4 | 13 Poin |
| Posisi 5 s.d 15 | 11 s.d 1 Poin |
Jadi, konsistensi finis di zona poin itu kuncinya, Sobat. Jatuh sekali aja, poin melayang dan gelar juara bisa makin jauh.
Bedah Teknis: Motor Kecil Tenaga Setan

Eits, jangan salah bre, motor JuniorGP beda jauh sama motor 250cc harian yang sering kalian liat di jalanan. Perbedaannya jauh pisan, euy! Sebab, motor di kelas utama JuniorGP itu speknya Prototype Murni.
Spesifikasi Mesin Prototype vs Harian
Honda NSF250RW dan KTM RC250GP mendominasi mayoritas grid. Speknya ngeri-ngeri sedap, antara lain:
- Mesin: 250cc, 1-silinder, 4-tak, DOHC.
- Tenaga (Power): Tembus 60 HP (44.7 KW / 60.8 PS) pada 13.500 RPM.
- Bobot: Cuma sekitar 80-an kg (kering). Artinya, ini seringan motor bebek tapi tenaganya kayak moge 500cc.
Selain spek mesin, hal yang bikin beda lagi adalah otaknya. Faktanya, semua motor di sini wajib pake ECU (Electronic Control Unit) seragam dari DellOrto. Masalah ECU ini krusial banget buat belajar telemetri. Oleh sebab itu, kalian bisa baca kupas tuntas pengertian ECU motor biar paham gimana rumitnya ngatur mesin balap.
Analisis Real Power-to-Weight Ratio (PWR)
Nah, buat ngebuktiin klaim performanya, Tim Exmotoride coba hitung ulang performanya. Kita pake asumsi bobot motor siap balap (wet weight) sekitar 88 kg ditambah berat rata-rata rider 62 kg (Total 150 kg). Karena ini motor balap murni, kita pake parameter loss power Rantai Racing yang minim gesekan (7.5%).
Berikut hasil itungan kami berdasarkan metode pengukuran Power to Weight Ratio yang akurat:
| Parameter Teknis | Nilai Perhitungan (Exmotoride Est) |
|---|---|
| Model Motor | Honda NSF250RW (JuniorGP Spec) |
| Jenis Penggerak | Rantai Racing (Low Friction – Loss 7.5%) |
| Tenaga Mesin (On Crank) | 60 HP (44.7 KW) |
| Tenaga Roda (On Wheel) | 55.5 HP |
| Berat Total (Motor + Rider 62kg) | 150 kg |
| SCORE REAL PWR | 0.37 HP/kg |
Gila kan? Angka PWR 0.37 HP/kg itu setara dengan performa mobil sport kelas atas, Brads! Makanya, fisik pembalap di sini harus prima banget buat nge-handle G-Force di tikungan.
Sistem Kompetisi dan Daftar Juara FIM JuniorGP

Banyak pengamat menyebut FIM JuniorGP sebagai “The Final Filter” atau “Jalur Neraka”. Ini adalah saringan terakhir. Jika di sini gagal, maka lupakan mimpi masuk MotoGP.
Hall of Fame: Daftar Juara Umum Lengkap (2012-2025)
Biar jelas dan gak ada sejarah yang terlewat, berikut ini adalah daftar LENGKAP juara dunia JuniorGP (dulu CEV Moto3) dari tahun ke tahun. Cek nama-namanya, ngeri semua!
| Tahun | Juara JuniorGP (Ex-CEV) | Negara Asal | Pabrikan |
|---|---|---|---|
| 2012 | Alex Marquez | 🇪🇸 Spanyol | Suter Honda |
| 2013 | Fabio Quartararo | 🇫🇷 Prancis | KTM |
| 2014 | Fabio Quartararo | 🇫🇷 Prancis | Honda |
| 2015 | Nicolo Bulega | 🇮🇹 Italia | KTM |
| 2016 | Lorenzo Dalla Porta | 🇮🇹 Italia | Husqvarna |
| 2017 | Dennis Foggia | 🇮🇹 Italia | KTM |
| 2018 | Raul Fernandez | 🇪🇸 Spanyol | KTM |
| 2019 | Jeremy Alcoba | 🇪🇸 Spanyol | Husqvarna |
| 2020 | Izan Guevara | 🇪🇸 Spanyol | KTM |
| 2021 | Daniel Holgado | 🇪🇸 Spanyol | GasGas |
| 2022 | Jose Antonio Rueda | 🇪🇸 Spanyol | KTM |
| 2023 | Angel Piqueras | 🇪🇸 Spanyol | Honda |
| 2024 | Álvaro Carpe | 🇪🇸 Spanyol | Husqvarna |
| 2025 | Brian Uriarte | 🇪🇸 Spanyol | KTM |
Liat kan? Hampir gak ada nama “kaleng-kaleng”. Bahkan, dominasi Brian Uriarte di musim 2025 membuktikan bahwa regenerasi pembalap Spanyol belum habis. Kalau kalian mau tau lebih jauh soal profil para alien ini, sebaiknya cek artikel mengenal profil pembalap MotoGP.
Jejak Pembalap Indonesia di JuniorGP

Nah, ini bagian yang bikin bangga, Gan. Faktanya, Indonesia gak cuma jadi penonton. Kita punya sejarah panjang mengirimkan ksatria-ksatria terbaik.
Fadillah Arbi Aditama: Sang Pemecah Rekor
Pembalap asal Purworejo binaan Astra Honda Racing Team (AHRT) ini memang legenda. Dia jadi Pembalap Indonesia Pertama yang berhasil juara 1 (Podium Tertinggi) di seri FIM JuniorGP Catalunya. Bayangin, lagu Indonesia Raya berkumandang di kandangnya pembalap Spanyol. Tentu saja, itu momen yang tak terlupakan.
Rekap Veda Ega Pratama Musim 2025: Finish Top 10!
Sementara itu, mata dunia sempat menyorot bocah ajaib dari Gunung Kidul, Veda Ega Pratama. Bagaimana hasil akhirnya? Berdasarkan data klasemen akhir musim 2025, Veda berhasil menyelesaikan musim di Posisi ke-10 dengan mengantongi total 70 Poin.
Capaian terbaik Veda terjadi saat Race di Misano dimana ia berhasil finish di posisi ke-4, nyaris naik podium! Hasil ini terbilang impresif untuk ukuran Rookie di kompetisi sekejam JuniorGP. Meskipun belum juara dunia seperti Brian Uriarte, Veda sudah menunjukkan taringnya. Konsistensi ini jadi modal berharga banget buat karirnya di tahun 2026 ini. Buat yang belum kenal, wajib baca profil Veda Ega Pratama biar tau betapa ngerinya skill anak ini.
Jadi, Kapan Kita Liat Merah Putih di Podium MotoGP?

Perjalanan memang masih panjang, Brads. Tapi melihat progres di FIM JuniorGP hingga awal 2026 ini, mimpi itu bukan hal mustahil. Ajang ini udah membuktikan kalau pembalap kita punya nyali dan skill yang setara sama bule-bule Eropa. Sekarang, tinggal masalah konsistensi dan dukungan sponsor aja.
Sebagai fans balap tanah air, tugas kita simpel: Dukung terus dan jangan cuma nyinyir kalau mereka lagi jatoh. Jadi, kalau menurut kalian, apakah Veda Ega bakal naik kelas ke Moto3 tahun depan? Langsung saja tulis prediksi kalian di kolom komentar ya!







