Beranda Wawasan Roda 2 Metode PWR Perbandingan Tenaga dan Berat Untuk Mengetahui Performa Motor

Metode PWR Perbandingan Tenaga dan Berat Untuk Mengetahui Performa Motor

396
0
cara menghitung power to weight ratio atau PWR

Power to weight ratio atau untuk memudahkannya bisa disingkat dengan PWR. PWR ini adalah suatu cara untuk mengukur performa dari motor. Kenapa bisa begitu? tentu saja bahwa performa kencang atau tidaknya sepeda motor sangat tergantung dari tenaga mesin untuk mendorong beban. Beban yang dimaksud adalah beban motor itu sendiri, tapi diluar bobot ridernya.

Secara “harfiah” pengertian PWR adalah perbandingan dari power (tenaga) motor jika dibandingkan dengan bebannya. Berarti cara menghitungnya cukup mudah, ya kalian hanya membagi saja besarnya power motor dengan bobotnya. Mudahnya kalian bisa melihat datanya di pabrikan untuk setiap jenis sepeda motor.

Patokan Power To Weight Ratio (PWR) untuk Mengukur Performa Motor

patokan pengukuran power to weight ratio

Sebagai contoh admin akan membandingkan tiga motor di kelas sport 150cc dari pabrikan Honda, Yamaha dan Suzuki. Ketiga motor yang admin maksud adalah Honda CBR150R, Yamaha YZF R15 dan Suzuki GSXR 150. Pada setiap data on crank disebutkan bahwa power ketiga motor ini masing-masing :

  • 16,9 HP untuk CBR 150R dengan berat 137 kg,
  • 19 HP untuk YZF R15 dengan berat 137 kg dan
  • 18,9 HP untuk GSXR 150 dengan berat mencapai 131 kg.

Maka, menurut data tersebut, maka PWR bisa didapatkan dengan membagi berat motor dengan powernya. Hasilnya adalah 8,11 kg / 1 HP untuk CBR 150R, 7,21 kg / 1 HP untuk R15 dan 6,93 kg / 1 HP untuk GSXR 150.

Hasil PWR menyimpulkan bahwa CBR 150R memiliki performa paling rendah diantara kedua pesaingnya. Kemudian, yang menarik adalah GSXR 150 meskipun diatas kertas power mesinnya dibawah R15, tapi menjadi yang terbaik. Hal ini dikarenakan bobotnya yang paling ringan. Prediksi PWR ini bisa kalian buktikan dengan keadaan sebenarnya, dengan catatan ketiga motor tadi masih dalam keadaan standar pabrikan.

Hal yang Harus Diperhatikan Pada Pengukuran Power To Weight Ratio

hal yang harus diperhatikan ketika mengukur power to weight ratio

Ada banyak hal yang harus kalian perhatikan ketika menggunakan metode PWR ini. Alasan kuatnya adalah untuk membuat PWR ini tetap valid, karena jenis motor sendiri sangat beragam tipe dan jenisnya. Beberapa hal yang harus anda perhatikan antara lain :

1. Usahakan Harus Motor yang Satu Kelas

Metode PWR ini cukup akurat jika digunakan untuk membandingkan motor yang satu kelas. Misalnya kelas motor sport dengan sport, naked dengan naked, matic dengan matic.

Kenapa bisa begitu? Berdasarkan pengalaman admin biasanya hasil PWR motor naked lebih baik dari motor sport. Hal ini dikarenakan pengaruh dari fairing yang cukup menambah beban. contohnya jika kalian membandingkan R15 dengan vixion R yang notabennya memliki power yang sama di 19 HP, tapi pada bobot atau berat justru vixion R ini lebih ringan di 131 Kg.

Dengan demikian didapatkan PWRnya sebesar 6,89 kg / 1 HP dan lebih baik dari R15. Padahal pada kenyataannya fairing ini sangat mempengaruhi performa dari motor karena aerodinamisnya yang mampu memanfaatkan hambatan angin jadi keuntungan.

2. Hitung Power Loss Untuk Sistem Penggerak Roda Matic

Ini yang umumhya banyak dari kalian tidak tau (bagi yang sudah mengetahuinya itu bagus), bahwa pada motor matic mempunyai “power loss” atau tenaga yang hilang cukup besar diakibatkan sistem penggerak rodanya. Motor matic mempunyai sistem penggerak roda berupa belt dengan power loss sebesar 20% atau lebih.

Sedangkan motor sport atau motor manual pada umumnya menggunakan rantai sebagai sistem penggerak rodanya, Rantai memiliki power loss terkecil sekitar 5% hingga 10%, dan bahkan ada yang hanya 2% saja. Jadi untuk membandingkan matic dengan motor sport power mesinnya harus dikurangi dulu dengan selisih jika dibandingkan rantai.

Jika ingin membandingkannya maka kalian bisa menentukan 12,5% pengurangan dari tenaganya untuk matic. 12,5% ini dari mana? Begini, 12,5% didapatkan dari selish power loss rantai antara 5% + 10% dibagi 2 yang hasilnya 7,5%. Lalu 20% power loss matic dikurang 7,5% hasilnya 12,5%. Ini hanya teori yang digunakan admin untuk mempermudah ketika membandingkan motor manual dengan matic, jadi tidak usah diambil patokan yang pasti. Dengan catatan yang diambil perbandingan adalah data pabrikan.

3. Pengujian PWR Harus Relevant Antara “Power On Crank” atau “Power On Wheel”

Kalian pastinya sering menemukan kasus ini, bahwa data power tenaga motor diatas kertas yang dikeluarkan setiap pabrikan hasilnya pasti berbeda jika diuji menggunakan dynamo meter. Apa yang menyebabkan seperti itu? Ternyata perbedaannya terletak pada apa yang diukurnya.

Sebagai contoh pada power on crank data pabrikan R15 tertulis 19 HP, tapi ketika diuji ternyata hanya 16,33 HP saja.

Dengan melihat hasil diatas maka bisa disimpulkan bahwa terdapat adanya perbedaan antara power on crank dan power on wheels. Jika power on crank (data pabrikan) itu hanya menguji mesinnya saja. Sedangkan power on wheels menggunakan dyno test menghitung berdasarkan perputaran roda.

Jadi power loss dari mesin ke roda sudah dihitung pada dynamo meter. Power loss ini bisa dari sistem penggerak rodanya, material penggerak rodanya, oli mesin dan hal lainnya yang kemungkinan menghambat power mesin r15.

Sampai disini mengerti ya, bahwa data on crank tidak bisa dibandingkan dengan data on wheels. Jika berniat membandingkan harus relevan, on crank dengan on crank, on wheel dengan on wheel.

Ada keunggulan dari power on wheels ini, jika kalian membandingkan matik melawan motorsport maka tidak perlu lagi memperhitungkan power lossnya, karena sudah terukur otomatis oleh dynamo meter.

PWR Membuktikan Besarnya Kubikasi Mesin CC Motor Tidak Menjamin Performanya

besarnya cc tidak menjamin bagusnya hasil PWR

Banyak hal yang menarik yang sebelumnya mungkin saja tidak sebagian dari kalian mengetahuinya. Salah satunya bahwa besarnya kubikasi mesin ternyata tidak menjamin performanya lebih baik jika dibandingkan motor yang lebih kecil. Karena bukan hanya tenaga, nyatanya berat motor pun ikut mempengaruhi.

Admin ambil contoh Honda Vario 160 yang memiliki power mesin 15,2 HP, jika dibandingkan dengan XMAX yang memiliki power jauh diatasnya sebesar 22,5 HP. Secara kubikasi mesin vario 160 jauh dibawah xmax 250 (begitu juga dengan harganya ya… selisihnya keterlaluan…).

Faktanya bobot dari Xmax 250 ini sangat berat mencapai 179 kg, sedangkan vario hanya 115 kg saja. Dari hasil perhitungan keduanya, PWR yang dihasilkan adalah sama-sama di 8,65 hp / 1 kg. Melihat hal ini, maka diprediksi performa kecepatan kedua motor ini diprediksi imbang (meskipun torsi tetap lebih “Badak” XMAX).

Lalu kemudian coba kalian membandingkan xmax 250 dengan motor manual yang memiliki kubikasi mesin dibawahnya. Admin ambil contoh yamaha vixion dengan kubikasi mesin sebesar 149,8 cc, power mesin 16,4 HP dan bobot 132 kg. Ternyata setelah dikalkulasi dengan memperhitungkan power loss, PWR-nya unggul vixion dengan nilai tercatat sebesar 8,05 kg / 1 HP. Dengan demikian bisa diprediksi bahwa Xmax 250 ini bukan tandingan yamaha vixion dijalanan meskipun mengusung mesin 250cc.

Power To Weight Ratio Sebagai Acuan Melakukan Upgrade Performa Motor

PWR sebagai acuan upgrade performa motor

Salah satu manfaat memahami power to weight ratio ini adalah sebagai acuan untuk upgrade meningkatkan performa motor kesayangan kalian. Terdapat dua pilihan antara fokus meningkatkan tenaga motor atau menurunkan bobot dari motor. Benar kan?

Jika kalian berfokus meningkatkan tenaga dari mesin, maka bisa menggunakan berbagai cara. Misalnya bore up kubikasi mesin menjadi lebih besar ccnya, melakukan porting polish, remaping ECU dan lain sebagainya.

Jika berfokus pada pengurangan bobot, maka kalian bisa mengganti knalpot orisinil dengan knalpot racing yang umumnya memiliki bobot jauh lebih ringan, mengganti velg dengan material yang lebih ringan, mengganti full body dengan carbon, menganti ban ke ukuran yang lebih kecil, menghilangkan part yang tidak perlu dan sebagainya. Pokoknya apapun yang sekiranya bisa mengurangi bobot motor kalian dengan signifikan.

Diakhir sebagai catatan, ada yang harus kalian perhatikan ketika memodifikasi motor. Admin tidak akan pernah bosan untuk selalu memperhatikan fungsi keamanan. Jadi keamanan dan keselamatan tetap harus menjadi prioritas tertinggi.

Artikulli paraprakKelebihan dan Kekurangan Knalpot Racing dengan Pengaturan Tiga Suara
Artikulli tjetërApa Bedanya Torsi (Torque) dan Tenaga (Power) Pada Mesin Motor

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini