Bre, pernahkah kamu membayangkan sebuah balapan kelas dunia di mana suara knalpot yang memekakkan telinga tiba-tiba menghilang? Kamu tidak akan mendengar raungan mesin pembakaran dalam yang meledak-ledak. Sebaliknya, telinga kamu hanya akan menangkap desingan angin tajam dan gesekan karet ban yang mencengkram aspal panas. Selamat datang di MotoE World Championship, Brads! Kita sedang memasuki arena gladiator modern di mana torsi instan memegang tahta sebagai raja jalanan.
Banyak orang awalnya memandang sebelah mata ajang ini. Mereka sering menganggap MotoE hanya sekadar “balapan pasar malam” atau tempelan belaka di sela-sela jadwal MotoGP. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Pabrikan raksasa Italia memberikan dukungan penuh lewat teknologi baterai yang makin gila. Hasilnya, motor-motor di sini memiliki jambakan akselerasi yang sanggup membuat motor sport konvensional 1000cc merasa minder.
Kali ini, Admin akan mengajak kamu membedah tuntas segala hal tentang MotoE. Kita akan mengupas sejarahnya, melihat detail spesifikasi motor Ducati V21L yang mengerikan, hingga mengenal para pembalap yang sukses menaklukkan monster hening ini. Siapkan kopi kalian, yuk kita gaspol!
Apa Itu MotoE: Artinya Melesat Tanpa Suara

MotoE World Championship merupakan kasta tertinggi balap motor listrik di muka bumi yang berdiri langsung di bawah payung FIM dan Dorna Sports. Kompetisi ini lahir sebagai jawaban nyata atas tuntutan zaman akan teknologi ramah lingkungan. Meski begitu, penyelenggara tetap mempertahankan adrenalin balap yang brutal. FIM memulai ajang ini sebagai piala dunia (World Cup) pada tahun 2019.
Akan tetapi, popularitasnya meledak tak terkendali seiring berjalannya waktu. Persaingan antar pembalap makin ketat dan teknologi pun makin matang. Oleh karena itu, FIM resmi menaikkan statusnya menjadi Kejuaraan Dunia penuh pada tahun 2023. Kita bisa membagi sejarah kompetisi ini menjadi dua babak besar yang memiliki karakter sangat berbeda.
Babak pertama kita sebut sebagai Era Energica (2019-2022). Pada masa perintisan ini, seluruh pembalap memacu motor Energica Ego Corsa. Meskipun kencang, motor ini mengambil basis dari motor jalan raya. Tim teknis kemudian memodifikasinya untuk kebutuhan balap. Kamu bisa membaca ulasan motor versi jalan rayanya di artikel Review Energica Ego+ RS yang pernah kita bahas sebelumnya. Masalah utama saat itu terletak pada bobot yang sangat berat, mencapai angka 260 kg lebih!
Kemudian, babak kedua pun bermula. Inilah Era Ducati (2023-Sekarang). Pada fase ini, permainan berubah total, Bro. Ducati masuk sebagai penyuplai tunggal dengan membawa motor andalan mereka, V21L. Insinyur Ducati mendesain motor ini murni dari nol sebagai prototipe balap, bukan motor harian yang ganti baju. Apa hasilnya? Lap time menjadi makin tajam, bahkan mendekati catatan waktu kelas Moto3 di beberapa sektor.
Spesifikasi Ducati V21L: Monster “Hening” Italia

Jangan pernah meremehkan performanya mentang-mentang motor ini “minum” listrik. Ducati V21L adalah mahakarya teknik Italia yang fokus melawan satu musuh utama kendaraan listrik: Berat. Berbeda dengan era sebelumnya yang terasa seperti mengendarai tank, Ducati sukses melakukan diet ketat. Mereka menggunakan serat karbon secara masif pada bagian sasis dan pelindung baterai.
Penasaran seberapa sangar jeroannya? Berikut adalah data spesifikasi teknis resmi yang wajib kamu tahu:
- Baterai: 18 kWh, 800 Volt (Mengusung sistem Liquid Cooled yang canggih).
- Tenaga Maksimum: 150 HP / 110 kW (Setara dengan motor 600cc supersport modern).
- Torsi: 140 Nm (Tersedia instan dari RPM 0, ini yang membuat akselerasinya ngeri).
- Top Speed: 275 km/jam (Ducati mencatat angka ini di trek lurus sirkuit Mugello).
- Bobot Kosong: 225 kg (Jauh lebih ringan jika kita bandingkan dengan era Energica).
Agar kita bisa melihat seberapa ngeri performanya secara data, mari kita hitung Power to Weight Ratio (PWR). Kita akan menggunakan rumus standar (Berat Motor + Rider 62kg). Perbandingan ini penting agar kamu paham posisi motor ini di antara motor balap lainnya.
| — Analisis Real PWR — |
| > Model Motor: Ducati V21L (MotoE Spec) |
| > Jenis Penggerak: Rantai (Racing Loss ~7.5%) |
| > Tenaga Mesin (Crank): 150 HP |
| > Tenaga Roda (Net): 138.75 HP |
| > Berat Total: 287 kg (225 kg + 62 kg) |
| > SCORE REAL PWR: 0.52 HP/kg |
Angka 0.52 HP/kg ini luar biasa untuk sebuah motor listrik. Sebagai perbandingan, motor ini sanggup melesat 0-100 km/jam dalam waktu kurang dari 2.5 detik. Secara prinsip kerja, motor ini jelas berbeda dengan motor konvensional yang pernah kita bahas di artikel Kupas Tuntas Motor Listrik. Di sini, kamu tidak akan menemukan jeda tenaga, semuanya instan!
Syarat Pembalap untuk Berlaga di MotoE

Tidak sembarang orang bisa menekan tombol starter dan gaspol di kejuaraan ini. Mengingat statusnya sebagai Kejuaraan Dunia, FIM menerapkan standar lisensi yang sangat ketat. Pembalap yang turun di MotoE biasanya merupakan campuran unik. Kita bisa melihat veteran berpengalaman dari MotoGP bersanding dengan talenta muda yang ingin loncat ke kelas utama.
Syarat utamanya, pembalap wajib mengantongi lisensi FIM Grand Prix. Mayoritas pembalap yang mengisi grid merupakan alumni dari Moto2, Moto3, atau World Supersport. Mereka wajib memiliki kemampuan adaptasi tinggi. Kenapa hal ini penting? Karena karakter motor listrik sangat berbeda. Motor ini tidak memiliki engine brake sekuat motor bensin. Selain itu, torsi yang meledak instan bisa membuat ban belakang slide parah kalau tangan kanan pembalap tidak “sekolah”.
Jadi, kalau kamu melihat rekam jejak mereka, seperti yang sering kita bahas di Profil Pembalap MotoGP, rata-rata mereka adalah petarung yang sudah kenyang makan aspal di berbagai sirkuit Eropa.
Aturan Main: Format Balap & Penentuan Poin

MotoE memiliki format yang unik dan berbeda drastis jika kita membandingkannya dengan Analisis Balap MotoGP konvensional. Faktor utamanya berasal dari batasan kapasitas baterai. Pembalap harus memuntahkan seluruh daya tersebut secara maksimal dalam waktu singkat.
Format Balapan Sprint Murni:
- Durasi Pendek: Panitia menggelar balapan dalam waktu singkat, biasanya hanya 7-10 lap tergantung panjang sirkuit.
- Gaya Balap Brutal: Pembalap wajib tampil flat-out 100%. Mereka tidak mengenal strategi hemat ban atau saving mode baterai. Gas pol dari start sampai finish!
- Jadwal Padat: Sesi balap terdiri dari Latihan Bebas, Kualifikasi (Q1 & Q2), dan dua kali balapan (Race 1 & Race 2). Biasanya, Dorna menggelar kedua balapan ini pada hari Sabtu.
Sistem Poin Klasik:
Meskipun durasi balapannya pendek (mirip Sprint Race MotoGP), sistem poinnya tetap mengikuti standar Grand Prix penuh (Feature Race). Pemenang berhak membawa pulang 25 poin, runner-up 20 poin, ketiga 16 poin, dan seterusnya hingga posisi ke-15. Artinya, jatuh di MotoE sangat mahal harganya karena poin yang hilang sangat besar.
Daftar Juara Dunia Pembalap (2019-2025)

Sejak marshal mengibarkan bendera start pertama kali, persaingan di kelas ini berjalan sangat ketat. Dominasi pembalap Eropa, terutama dari Spanyol dan Italia, masih sangat terasa. Berikut adalah daftar “Raja Jalanan Senyap” dari masa ke masa, termasuk update terbaru musim 2025.
| Musim | Juara Dunia | Negara | Motor |
|---|---|---|---|
| 2019 | Matteo Ferrari | Italia | Energica |
| 2020 | Jordi Torres | Spanyol | Energica |
| 2021 | Jordi Torres | Spanyol | Energica |
| 2022 | Dominique Aegerter | Swiss | Energica |
| 2023 | Mattia Casadei | Italia | Ducati |
| 2024 | Hector Garzo | Spanyol | Ducati |
| 2025 | Alessandro Zaccone | Italia | Ducati |
Kita bisa melihat dengan jelas, Alessandro Zaccone berhasil mengunci gelar 2025 berkat performa konsistennya di atas Ducati V21L. Kemenangan Zaccone membuktikan satu hal: konsistensi dan adaptasi terhadap manajemen suhu ban menjadi kunci utama kemenangan di era Ducati ini.
Motor One-Make Series MotoE

Karena MotoE menganut sistem One-Make Series (satu merek motor untuk semua pembalap), juara konstruktor sebenarnya mencerminkan era suplier tunggal motor tersebut. Namun, evolusi teknologi di setiap era sangat layak untuk kita cermati.
| Era | Pabrikan | Periode | Karakteristik Utama |
|---|---|---|---|
| Gen 1 | Energica | 2019 – 2022 | Basis motor jalan raya, Bobot berat (260kg+), Suara khas siulan tinggi, Handling butuh fisik kuat. |
| Gen 2 | Ducati | 2023 – Sekarang | Prototipe murni (V21L), Bobot ringan (225kg), Pendingin baterai canggih, Handling tajam dan lincah. |
Dominasi Ducati saat ini membawa standar baru. Pabrikan Italia ini membuktikan bahwa motor listrik bisa lincah di tikungan. Hal ini sekaligus mematahkan mitos lama yang mengatakan bahwa EV cuma jago di trek lurus tapi kaku saat pembalap mengajaknya rebah.
Peranan Indonesia: Dari Legenda Sentul ke Harapan Mandalika

Bicara soal balapan kelas dunia, Indonesia punya sejarah panjang yang tidak bisa kita pandang sebelah mata. Jika kita menilik ke belakang, tepatnya di artikel Sejarah MotoGP, Indonesia pernah bertindak sebagai tuan rumah GP 500cc di era Sentul (1996-1997). Saat itu legenda Mick Doohan berjaya dengan mesin 2-tak yang berasap tebal.
Sekarang, zaman telah berganti. Di Era Mandalika (2022-Sekarang), Indonesia kembali menancapkan taring di peta dunia lewat sirkuit jalan raya modern yang indah. Meskipun saat ini MotoE belum mampir secara full series ke Mandalika karena kendala logistik baterai (maskapai mengategorikan baterai lithium besar sebagai kargo berbahaya/DG untuk penerbangan jarak jauh), relevansi Indonesia sangat besar.
Pemerintah kita sedang gencar mendorong ekosistem kendaraan listrik. Terlebih lagi, basis fans MotoGP di sini termasuk salah satu yang terbesar di dunia. Bukan tidak mungkin, dalam waktu dekat desingan halus Ducati V21L akan terdengar di Lombok. Hal ini akan melanjutkan tongkat estafet sejarah dari era asap 2-tak Sentul menuju era listrik Mandalika.
Fakta Unil, Menarik dan Ekstrim di MotoE

Ada hal-hal gila yang cuma terjadi di balapan ini. Kamu tidak akan menemukannya di balapan mesin bensin. Cek fakta uniknya, Bro:
- Suara Dengkul Lawan: Saking senyapnya mesin listrik, banyak pembalap mengaku bisa mendengar suara gesekan knee-puck (pelindung lutut) lawan ke aspal saat mereka menikung bersebelahan. Ini sensasi yang mustahil pembalap dengar di MotoGP!
- Pendinginan Baterai Ajaib: Ducati V21L membawa sistem pendingin cair ganda yang canggih. Fitur ini memungkinkan tim mekanik langsung mengecas (charging) motor begitu masuk pit tanpa perlu menunggu baterai dingin dulu. Efisiensi waktu adalah segalanya.
- Tanpa Kopling: Motor ini tidak memiliki gigi persneling dan tuas kopling. Pembalap tinggal memutar gas dan menarik rem. Fokus mereka 100% tertuju pada racing line dan titik pengereman.
Untuk info lebih lengkap dan resmi mengenai regulasi terbaru, kamu bisa mengunjungi langsung situs MotoE Official atau membaca detail sejarahnya di Wikipedia MotoE.
Siap Menerima Era Baru atau Tetap Setia pada Bensin?

Banyak bikers yang masih skeptis dan bilang, “Ah, balapan kok nggak ada suaranya, kayak mainan.” Memang, sensasi suaranya menghilang. Tapi kalau kamu melihat catatan waktu lap, aksi salip-menyalip yang brutal, dan teknologi yang mereka bawa, MotoE menyajikan tontonan yang sangat kompetitif.
Pabrikan akan menurunkan teknologi yang mereka uji di sini ke motor harian. Kita mungkin bakal menggunakan teknologi tersebut 5 atau 10 tahun lagi. Jadi, suka atau tidak, inilah masa depan yang sedang berkembang di depan mata kita.
Kalau menurut kamu gimana, Sobat Exmotoride? Apakah balapan tanpa suara knalpot ini tetap seru buat kita tonton, atau justru bikin ngantuk karena kehilangan “jiwa” raungan mesin? Yuk, kita diskusi santai di kolom komentar, Admin penasaran sama pendapat kalian!







