Sebenarnya, pernah nggak sih kalian mikir, kenapa motor yang kubikasi mesinnya (CC) lebih kecil kadang bisa nyalip motor gede alias moge di jalanan? Jawabannya tentu bukan cuma soal nyali, Bro, melainkan ada hitungan teknis pasti yang namanya Power to Weight Ratio, atau sering kita singkat PWR. Secara sederhana, PWR ini adalah “rapor” suci buat mengukur seberapa lincah performa asli dari motor kalian saat ditarik gasnya.
Lantas, kenapa bisa begitu? Logikanya gampang banget, Sobat. Pasalnya, performa motor itu sangat tergantung dari seberapa kuat tenaga mesin (Power) untuk mendorong beban (Weight) yang ditanggungnya. Oleh karena itu, di artikel kali ini, Tim Exmotoride bakal bongkar cara menghitungnya dengan metode “Real PWR” yang lebih akurat. Hal ini dikarenakan metode tersebut memperhitungkan bobot pengendara dan tenaga bersih di roda.
Rumus dan Cara Menghitung Power to Weight Ratio yang Benar

Pada dasarnya, pengertian PWR adalah perbandingan antara tenaga motor dengan bobot total. Meskipun terdengar teknis, kabar baiknya adalah cara menghitungnya gampang banget dan nggak perlu jago kalkulus! Kalian hanya perlu data Tenaga (HP) dan Berat (Kg). Namun, agar hasilnya akurat alias “Real World”, kita tidak boleh hanya menggunakan data brosur mentah.
Oleh sebab itu, kita wajib menggunakan rumus Real PWR ala anak teknik. Adapun rumusnya adalah sebagai berikut:
Rumus Real PWR = Power on Wheel (HP) ÷ Berat Total (Kg)
Keterangan Parameter Wajib:
* Power on Wheel: Tenaga bersih (Netto) setelah dikurangi power loss dari sistem penggerak.
* Berat Total: Berat Isi Motor (Curb Weight) + 62 Kg (Konstanta berat rata-rata rider / Rata-rata manusia).
Penting untuk dicatat bahwa semakin BESAR angka hasil pembagiannya (HP/Kg), maka akan semakin kencang dan enteng tarikan motor tersebut. Hal ini tentu sangat berbeda dengan metode lama (Kg/HP) yang justru mencari angka terkecil.
Patokan Power To Weight Ratio (PWR) untuk Mengukur Performa Motor

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, Kita bakal kasih contoh nyata perbandingan tiga motor “raja jalanan” di kelas sport 150cc. Unit yang akan kita bedah secara khusus adalah Honda CBR150R, Yamaha R15, dan Suzuki GSX-R150. Selanjutnya, kita akan menghitungnya menggunakan asumsi Power Loss Rantai Standar sebesar 10% dan bobot rider 62 Kg agar mendekati kondisi nyata di jalanan.
Pada awalnya, mungkin kalian akan kaget melihat hasilnya. Padahal, meskipun power mesin GSX-R150 (18,9 HP) sedikit di bawah R15 (19 HP), namun motor ini menang telak di skor PWR (0,088). Hal tersebut terutama disebabkan oleh bobot motornya yang jauh lebih ringan (131 Kg vs 137 Kg). Akibatnya, inilah alasan utama kenapa di trek lurus, “Si Gesex” seringkali menjadi momok menakutkan buat rival-rivalnya.
Hal yang Harus Diperhatikan: Jenis Penggerak & Power Loss

Akan tetapi tunggu dulu, Brads. Poin paling krusial dalam menghitung PWR adalah memahami jenis sistem penggerak roda. Hal ini penting karena setiap jenis penggerak memiliki tingkat efisiensi alias “sunatan massal” tenaga yang berbeda-beda sebelum sampai ke aspal. Berikut adalah panduan fundamental kisaran Power Loss yang wajib kalian catat:
1. Rantai (Chain Drive)
Sistem ini adalah yang paling umum dan efisien untuk motor sport atau bebek. Secara teknis, tenaga ditransfer langsung dari gear depan ke belakang.
- Loss Standar: Sekitar 10% (Faktor pengali 0,90).
- Rentang Kisaran: Mulai dari 7,5% (untuk Rantai Racing Non-O Ring (contoh motogp)) sampai 12% (untuk rantai harian yang kurang perawatan).
Contoh Bedah Anatomi Power Loss: Ke Mana Hilangnya Tenaga 10% Itu?
Mungkin banyak dari kalian pasti penasaran, “Min, emangnya tenaga 10% itu hilang ke mana aja sih? Kok gede banget?” Namun, tenang saja karena angka itu bukan sulap bukan sihir. Secara rinci, berdasarkan analisis teknis motor harian yang efisien, berikut adalah simulasi distribusi hilangnya tenaga dari mesin sampai ke ban:
2. CVT Matic (V-Belt)
Di sisi lain, berbeda dengan rantai, motor matic menggunakan sabuk V-Belt dan pulley yang menghasilkan gesekan serta panas tinggi. Akibatnya, kondisi ini menyebabkan tenaga lebih banyak terbuang.
- Loss Standar: Sekitar 20% (Faktor pengali 0,80).
- Rentang Kisaran: Antara 18% (Full Modif Kirian/Racing) hingga 25% (Kondisi standar atau mesin panas).
3. Belt Moge (Toothed Belt)
Biasanya ditemukan pada moge seperti Harley Davidson atau Yamaha TMax. Jenis ini lebih halus dari rantai, akan tetapi sedikit lebih berat.
- Loss Standar: Sekitar 15% (Faktor pengali 0,85).
- Rentang Kisaran: 12% (Optimis) sampai 17% (Pesimis).
4. Gardan (Shaft Drive)
Sistem ini adalah poros kopel yang umum pada motor touring BMW GS atau Cruiser klasik. Walaupun minim perawatan, tapi bobotnya berat dan mekanismenya kompleks.
- Loss Standar: 18% untuk Gardan Modern (BMW/Goldwing 2010+) dan 25% untuk Gardan Klasik/Motor Tua.
- Rentang Kisaran: 15% sampai 25% tergantung teknologi gear-nya.
PWR Membuktikan Besarnya Kubikasi CC Mesin Tidak Menjamin Performa

Selanjutnya, setelah memahami soal loss di atas, mari kita coba adu data antara Yamaha XMAX 250 (Matic Bongsor) melawan Yamaha Vixion R 155 (Naked Bike). Kita akan terapkan ilmu tadi: XMAX pakai rumus CVT (Loss 20%) sedangkan Vixion pakai rumus Rantai (Loss 10%).
Cukup mengejutkan, bukan? Faktanya, ternyata skor PWR Vixion R (0,088) jauh lebih tinggi daripada XMAX 250 (0,074). Dengan kata lain, untuk akselerasi awal 0-60 km/jam atau stop-and-go di kemacetan kota, Vixion R bakal lebih jambak dan responsif. Sebaliknya, XMAX butuh tenaga ekstra besar cuma buat menggerakkan badannya yang bongsor itu.
Power To Weight Ratio Sebagai Acuan Melakukan Upgrade Performa Motor

Akhirnya, sebagai kesimpulan strategi, setelah paham konsep ini, kalian bisa jadikan PWR sebagai kitab suci saat mau meningkatkan performa motor kesayangan. Rumusnya simpel: Kalau mau skor PWR naik, maka pilihlah salah satu jalan ninja berikut ini:
1. Jalur Power Up (Naikkan Tenaga)
Pertama, ini adalah jalur buat sultan atau yang hobi oprek. Kalian bisa fokus menaikkan angka pembilang (Power). Sebagai contoh, caranya bisa dengan bore up untuk menaikkan kapasitas mesin. Namun, pahami dulu konsep bore x stroke biar mesin nggak jebol. Selain itu, opsi lain adalah remap ECU atau ganti knalpot racing untuk melepas tenaga yang tertahan.
2. Jalur Weight Reduction (Turunkan Bobot)
Di sisi lain, ini adalah jalur cerdas dan kadang lebih murah. Fokus utamanya adalah mengecilkan angka penyebut (Weight). Apa saja yang bisa dilakukan?
- Ganti velg standar dengan jenis velg motor forged atau aluminium ringan. Velg ringan mengurangi unsprung weight yang efeknya kerasa banget.
- Lepas aksesoris yang nggak perlu (behel berat, spion variasi besi).
- Ganti body parts dengan material Carbon Fiber.
- Ganti ukuran ban ke profil yang lebih kecil tapi tetap aman (Cek panduan kode ban motor).
Jadi Gimana Bro, Masih Minder Sama CC Besar?

Jadi, sekarang Sobat sudah paham kan kalau Power to Weight Ratio itu kunci rahasia para speed freak? Oleh sebab itu, kalau motor kalian cuma 150cc tapi enteng, jangan minder kalau ketemu matic 250cc di lampu merah. Secara teoritis di atas kertas, kalian punya potensi buat ngacir duluan!
Kalian sendiri tim mana nih, Bro? Apakah Tim “Power Up” yang oprek mesin sampai limit, atau justru Tim “Diet Ketat” yang ngurangin bobot motor? Coba kasih tau Tim Exmotoride racikan rahasia motor kalian di kolom komentar ya!







