Halo Brad dan Sobat Exmotoride! Pernah nggak sih kalian mikir, gimana caranya ledakan tenaga di dalam mesin bisa bikin ban belakang motor kita berputar kencang? Nah, di sinilah peran vital dari sistem penggerak roda. Komponen ini bekerja sebagai jembatan “kehidupan” bagi motor kalian.
Secara teknis, fungsinya sangat krusial sebagai perantara yang menyalurkan tenaga dan daya dari kruk as mesin menuju roda belakang. Tanpa sistem ini, motor bermesin sesehat apapun cuma bakal jadi genset yang meraung di tempat. Tentu saja, tujuan akhirnya agar motor bisa bergerak melaju membelah jalanan.
Kalau kita bicara soal performa, baik itu tenaga dan torsi, semuanya memang bermula dari mesin. Makanya, nggak heran kalau orang sering menjuluki mesin sebagai “dapur pacu”. Di sanalah mesin “memasak” campuran udara dan BBM hingga menjadi energi (daya) mekanik yang siap meledak.
Apa Itu Power Loss dan Karakter Sistem Penggerak Roda?

Selanjutnya, sistem harus menyalurkan daya mekanik yang beringas itu dengan sopan dan efisien ke roda melalui perantara. Kita mengenal beberapa jenis utama sistem penggerak di dunia roda dua: rantai (chain), V-Belt CVT, Gardan (shaft), hingga Direct Drive (Gear) pada Vespa lawas.
Bagi kalian yang ingin ngulik lebih dalam soal mesin agar larinya makin enak, kalian bisa mencoba berbagai cara meningkatkan performa motor agar tenaga dari mesin ini makin maksimal sebelum tersalurkan ke roda.
Secara umum, setiap jenis sistem penggerak roda ini punya karakter unik. Masing-masing punya “kepribadian” sendiri, baik dari sisi performa akselerasi, efisiensi penyaluran tenaga, hingga ketahanan (durability).
Di satu sisi, keberadaan mereka sangat membantu motor untuk berjalan. Namun di sisi lain, hukum fisika itu kejam, Bro. Proses transfer tenaga ini pasti memangkas sebagian daya alias “power loss” sebelum sampai ke aspal.
Faktanya, Rantai, Belt, Direct Drive, dan Gardan memiliki tingkat “penguapan” tenaga yang berbeda-beda. Hal inilah yang menjadi penyebab utama kenapa ada perbedaan power on crank dan power on wheels yang sering bikin kalian bingung pas lihat hasil dyno test. Yuk, kita bedah satu per satu secara mendalam!
Catatan Penting: Artikel ini menggunakan referensi data teknis untuk perhitungan Real Power to Weight Ratio (PWR). Kita menggunakan angka persentase “Power Loss” di bawah ini sebagai standar variabel untuk menghitung tenaga bersih di roda (On Wheel) agar kalian mendapatkan data yang akurat.
Sistem Penggerak Roda Rantai (Chain Drive) Memiliki Power Loss Dibawah 10%

Kita mulai dari yang paling legendaris. Rantai adalah sistem penggerak roda yang paling umum, paling tua, dan paling familiar bagi bikers di seluruh dunia. Terlebih kalau kita flashback ke tahun 2000-an ke bawah.
Pada masa itu, populasi motor matic belum mewabah seperti sekarang. Masyarakat awam praktis hanya mengenal rantai sebagai satu-satunya cara menggerakkan motor. Kenapa rantai begitu populer?
Jawabannya ada pada efisiensi mekanisnya yang mantap. Rantai menciptakan hubungan fisik langsung yang “menggigit” antara gir depan dan gir belakang. Selain itu, material baja logam membuat rantai sangat kokoh.
Kalian bisa mengandalkannya untuk menarik beban berat dan mentransfer torsi instan tanpa banyak drama (seperti selip). Oleh karenanya, rantai masih memegang mahkota sebagai sistem penggerak dengan power loss terendah.
Rantai berkondisi “sehat” biasanya hanya membuang tenaga sekitar 5% hingga 10%. Bahkan, untuk rantai balap modern dengan teknologi low friction, teknisi mengklaim rantai jenis ini mampu menekan kehilangan tenaga hingga cuma 2% saja. Efisien banget, kan?
Standar Data Power Loss: Rantai (10%)
Untuk kebutuhan perhitungan performa yang akurat (Real PWR) menurut standar Tim Exmotoride, kita menetapkan standar kehilangan tenaga pada rantai sebesar 10% (faktor pengali 0,90). Kita mengambil angka ini sebagai rata-rata motor harian.
- Rantai Harian (Standar): Loss 10% (Faktor pengali tenaga: 0,90).
- Rantai Balap (Low Friction): Loss 7,5% (Faktor pengali tenaga: 0,925).
Bukti Dyno Test: Kasus Yamaha Xabre

Biar nggak cuma teori, kita kasih contoh nyata dari data performa Yamaha Xabre. Motor laki ini membawa mesin 150cc SOHC 4 valve yang cukup nendang di kelasnya. Mari kita lihat datanya.
Pada spesifikasi brosur atau data on crank, pabrikan Yamaha menulis tenaga puncaknya adalah 16,1 HP pada putaran 8.500 RPM. Angka ini merupakan tenaga murni mesin tanpa beban roda.
Namun, fakta di lapangan berbeda. Ketika teknisi menguji motor ini di atas mesin dynotest (untuk mengukur tenaga di roda), alat tersebut mencatat hasil 14,52 HP pada RPM yang sama. Kemana sisanya?

Secara kasar, tenaga menyusut sebesar 1,58 HP atau sekitar 9,8% dari tenaga asli mesin. Angka ini cukup masuk akal dan sesuai dengan perhitungan kita untuk sistem rantai standar pabrikan (toleransi loss 10%).
Berdasarkan perhitungan kita dengan rumus Real PWR (Bobot isi estimasi 135kg + Rider 62kg = 197kg), motor ini memiliki rasio performa sekitar **0,073 HP/Kg**. Cukup responsif untuk melibas kemacetan kota.
Sebenarnya, angka kehilangan 9,8% itu bukan murni akibat rantai semata, Bro. Gesekan ban ke roller dyno, bobot velg, hingga kondisi bearing roda turut menyumbang angka tersebut. Jadi, efisiensi murni rantainya sendiri kemungkinan besar jauh lebih baik, alias di bawah angka tersebut.
Kelebihan Rantai (Chain Drive)
Kalau kita bedah lebih dalam, rantai alias chain drive ini punya varian yang beragam. Mulai dari rantai standar tanpa ring, hingga jenis O-ring dan X-ring yang lebih awet menyimpan pelumas. Tapi secara umum, inilah keunggulan mutlak rantai:
- Efisiensi Juara: Punya power loss paling minim (5% – 10%), bikin tarikan motor terasa lebih responsif dan “jambak”.
- Durability Tinggi: Material bajanya kuat dan kokoh. Sangat bisa diandalkan untuk motor pekerja keras atau touring jarak jauh dengan beban berat.
- Gampang Bongkar Pasang: Kalian bisa mengganti gear set atau memotong rantai dengan relatif mudah, bahkan bisa mengerjakannya sendiri di rumah.
- Perawatan Simpel: Cukup bersihkan dan lumasi secara rutin, nggak butuh ritual aneh-aneh.
- Ekonomis: Harganya paling terjangkau dibanding belt atau gardan, bahkan kalau harus ganti satu set (rantai + gear).
- Ketersediaan Melimpah: Mau cari di bengkel resmi, bengkel pinggir jalan, sampai toko online, stoknya pasti ada.
- Surga Modifikasi: Pilihan part aftermarket-nya gila-gilaan. Mau warna emas, merah, atau rantai balap ringan, semua tersedia.
Kekurangan Rantai
Tentu saja, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Meski performanya gahar, rantai punya beberapa “penyakit” bawaan yang harus kalian maklumi:
- Berisik: Gesekan logam ketemu logam pasti menimbulkan suara. Apalagi kalau pelumasnya kering, suaranya bisa kayak mesin jahit rusak.
- Kotor: Karena posisinya terbuka di bawah, rantai jadi magnet debu, pasir, dan cipratan air hujan. Pelumas rantai juga sering muncrat mengotori velg.
- Rawan Karat & Kendor: Jika kalian tipe pemilik yang malas merawat, rantai cepat sekali berkarat, kaku, dan mulur (kendor). Ini bahaya kalau sampai lepas di jalan.
Saran Tim Exmotoride buat kalian pengguna motor rantai: wajib hukumnya punya chain lube (oli rantai) di rumah. Selain menjaga keawetan biar nggak cepat putus, pelumasan yang baik juga mengurangi gesekan, yang artinya power loss jadi makin kecil!
Sistem Penggerak V-Belt CVT (Belt Drive) Dengan Power Loss Lebih Dari 20%

Bergeser ke era milenium, tepatnya tahun 2000-an ke atas, pasukan skuter matik (skutik) mulai menyerbu jalanan Indonesia. Fenomena ini mengenalkan masyarakat pada sistem penggerak jenis baru: V-Belt.
Seiring penjualan skutik yang meroket mengalahkan motor bebek, popularitas V-Belt CVT pun ikut naik daun. Bahkan, hampir semua motor harian di perkotaan sekarang pakai sistem ini. Tapi, jangan salah bre, V-Belt bukan monopoli motor matic kecil saja.
Faktanya, beberapa motor manual dan moge juga menggunakan teknologi belt drive ini, meskipun tanpa sistem CVT. Contohnya pada moge eksotis seperti Buell 1125R atau beberapa varian Harley Davidson. Fungsinya sama persis kayak rantai, cuma beda bahan.
Sesuai namanya, sabuk (belt) berbahan karet khusus dengan penguat serat (kevlar/kawat) bekerja sebagai komponen utamanya. Karena bahannya lunak, karakter penyaluran tenaganya jadi jauh lebih halus dan senyap dibanding rantai.
Sayangnya, kenyamanan itu ada harganya, Sobat. V-Belt memiliki power loss yang paling buruk di antara ketiganya. Gesekan dinding belt dengan pulley serta potensi selip (slippage) saat akselerasi membuat tenaga hilang hingga mencapai 15% bahkan 20% lebih.
Standar Data Power Loss: Belt & CVT (15% – 20%)
Penting untuk membedakan antara Belt Drive pada moge dan sistem CVT pada motor matic, karena efisiensinya berbeda menurut hitungan kita:
- Belt Drive (Moge/Harley): Kehilangan tenaga sekitar 15% (Faktor pengali: 0,85).
- CVT (Matic): Kehilangan tenaga lebih besar, mencapai 20% – 25% (Faktor pengali: 0,80) karena adanya gesekan kompleks di pulley dan kampas ganda.
Studi Kasus: Dyno Test Yamaha Aerox 155

Sebagai studi kasus, mari kita lirik Yamaha Aerox 155, salah satu skutik idola anak muda. Pabrikan Yamaha mengklaim mesin 155cc VVA-nya mampu memuntahkan tenaga 15,2 HP di putaran 8.000 RPM (on crank).
Akan tetapi, saat operator menyiksa motor ini di atas mesin dyno, tenaga yang sampai ke roda belakang “hanya” 11,89 HP pada 8.020 RPM. Ada selisih yang lumayan bikin sakit hati kalau kalian pemuja angka performa.

Sementara itu, data ini menunjukkan tenaga yang hilang mencapai 3,31 HP. Jika kita hitung persentasenya, power loss-nya tembus angka 21-22%! Angka ini sangat wajar untuk sistem CVT yang melibatkan banyak gesekan antara belt, roller, dan kampas ganda.
Maka dari itu, menurut perhitungan kita (Bobot isi estimasi 118kg + Rider 62kg = 180kg), Real PWR Yamaha Aerox 155 ini berada di kisaran **0,066 HP/Kg**. Sedikit lebih rendah dibanding Xabre karena faktor “sunat” tenaga dari CVT, tapi tetap kencang!
Kelebihan V-Belt CVT (Belt Drive)
Walaupun boros tenaga, kenapa V-Belt CVT malah jadi raja jalanan sekarang? Karena dia menawarkan kenyamanan yang rantai tidak bisa berikan:
- Bebas Perawatan Rutin: Kalian nggak perlu repot-repot melumasi oli tiap minggu. Cukup pakai sampai masa pakainya habis.
- Sangat Halus: Hentakan tenaga terasa smooth, nggak ada gejala “jeda” atau nyentak kasar saat oper gigi.
- Senyap: Suaranya jauh lebih sopan dan tidak bising karena material karet meredam gesekan.
- Bersih: Cover CVT menutup rapat posisinya, jadi aman dari debu, lumpur, dan air.
- Gampang Kalian Dapatkan: Sparepart-nya melimpah ruah di mana-mana, dari bengkel resmi sampai toko online.
- Modifikasi Kirian: Buat yang hobi ngoprek, ganti roller atau per CVT bisa ngasih sensasi beda yang asyik.
Kekurangan V-Belt CVT
Nah, buat kalian yang memelihara motor matic, perhatikan kekurangan ini agar kalian tidak kaget saat servis. Apalagi komponen CVT menuntut perhatian khusus agar awet.
Jangan lupa simak panduan lengkap perawatan motor matic supaya motor kalian bebas gredek dan tarikannya tetap enteng.
- Power Loss Besar: Kehilangan tenaga 15-20% bikin konsumsi BBM biasanya sedikit lebih boros dibanding motor manual spek sejenis.
- Umur Pakai Lebih Pendek: Karet belt punya usia pakai (biasanya 20.000 – 25.000 km) dan kalian wajib menggantinya. Kalau putus di jalan, motor lumpuh total.
- Biaya Ganti Mahal: Harga belt original lumayan menguras kantong dibanding harga rantai biasa.
- Rumit: Bongkar pasang membutuhkan alat khusus (tracker), susah kalau mau kalian kerjakan sendiri di garasi rumah.
Sistem Penggerak Shaft Atau Gardan (Shaft Drive) Dengan Power Loss Mencapai 25%

Terakhir, kita bahas dua sistem penggerak yang unik. Pertama adalah Shaft Drive alias Gardan, sistem penggerak para “Sultan”. Jarang sekali kita lihat motor harian pakai gardan, kecuali moge-moge touring kelas berat seperti BMW R1200GS atau Honda Goldwing.
Prinsip kerjanya mirip gardan mobil. Serangkaian gir nanas (bevel gear) memutar tenaga mesin 90 derajat dan menyalurkannya lewat as kopel besi yang kokoh. Masalah terbesarnya adalah bobot yang berat dan kerumitan mekanis untuk memutar as besi tersebut.
Faktanya, sistem gardan bisa “menyunat” tenaga cukup besar (terutama pada gardan model lama/klasik) dari total tenaga mesin. Namun, sistem ini menawarkan ketenangan karena sangat hening, minim perawatan, dan anti putus.
Sistem Transmisi Langsung (Direct Drive – Vespa Klasik)
Selain gardan, kita juga mengenal sistem yang sangat legendaris, yaitu Direct Drive atau transmisi langsung via roda gigi (Gear). Sistem ini menjadi ciri khas skuter Vespa klasik bermesin 2-tak (seperti PX, Super, Sprint lawas).
Berbeda dengan rantai atau belt, sistem ini tidak memakai perantara panjang. Kruk as mesin terhubung langsung ke susunan gigi transmisi, dan as roda belakang langsung menancap pada gearbox. Praktis, mesin menempel langsung di samping roda.
Karena koneksinya metal-to-metal tanpa perantara rantai yang bisa kendor atau belt yang bisa selip, efisiensi penyaluran tenaganya sangat baik, mirip dengan rantai. Power loss pada sistem Direct Drive ini tergolong rendah, berkisar di angka 7% – 10%. Kelemahannya hanya pada distribusi bobot motor yang berat sebelah (kiri/kanan) dan getaran mesin yang langsung terasa di roda.
Standar Data Power Loss: Gardan & Direct Drive
Berikut adalah acuan kehilangan tenaga (Power Loss) yang kita pakai dalam menghitung performa (HP):
- Gardan Modern (2010+): Teknologi presisi tinggi (seperti pada BMW GS) menekan loss hingga 18% (Faktor pengali: 0,82).
- Gardan Klasik: Pada motor tua atau cruiser, loss bisa mencapai 25% (Faktor pengali: 0,75).
- Direct Drive (Vespa): Efisiensi tinggi, loss sekitar 10% (Faktor pengali: 0,90).
Tabel Perbandingan: Rantai vs Belt vs Gardan vs Direct Drive
Biar kalian makin mudah membandingkan, Kita sudah buatkan ringkasan head-to-head sistem penggerak ini berdasarkan standar teknis terbaru:
Verifikasi Akhir: Pahami Karakteristik dan Perawatan Sistem Penggerak

Setelah membedah tuntas komponen sistem penggerak roda motor di atas, wawasan kalian pasti makin terbuka, dong? Sekarang kalian paham kenapa motor matic seringkali sulit menang kalau diajak “adu mekanik” lawan motor manual di trek lurus.
Singkatnya, salah satu faktor utamanya bukan karena mesinnya lemah, tapi karena sistem penggerak rodanya (CVT) memiliki power loss yang jauh lebih besar ketimbang motor manual yang pakai rantai. Motor manual lebih efisien menyalurkan setiap tetes tenaga ke aspal.
Mengenai perbedaan data power dan torsi antara klaim pabrikan vs hasil uji dyno bengkel, jangan buru-buru menuduh pabrikan bohong ya, Sobat. Itu hal yang wajar.
Pabrikan menguji mesin murni (on crank), sedangkan kalian menguji putaran rodanya (on wheel) di bengkel. Dunia otomotif menyebut selisih angka itu sebagai power loss. Menurut referensi umum dari Wikipedia tentang Komponen Penggerak Motor, setiap sistem memang punya karakteristik efisiensi mekanis yang berbeda-beda.
Jadi, sebagai biker cerdas, kalian bertugas meminimalisir power loss tersebut. Kalau pakai rantai, rajin-rajinlah melumasi. Kalau pakai matic, pastikan komponen CVT selalu prima. Banyak-banyaklah cari informasi dan rawat motor kalian.







